Fred Durst (vokal), Wes Borland (gitar), Sam Rivers (bass), John Otto (drum) dan DJ Lethal berencana meluncurkan album baru yang akan segera disusul dengan serangkaian tur mulai musim semi nanti. Borland sendiri sempat meninggalkan Limp Bizkit di tahun 2001 namun sempat bergabung lagi di tahun 2004 meski untuk waktu yang cukup singkat.
Kamis, 12 Februari 2009
Limp Bizkit Reuni Dengan Formasi Awal
Sabtu, 10 Januari 2009
Dari Iklan Jadi Single

Siaran persnya, menulis begini: “Galih dan Ratna” kali ini dihadirkan dalam tempo trainbeat, dengan mood yang ringan seperti bercerita ke pendengar tentang indahnya cinta antara Galih dan Ratna. Elemen khusus yang membuat unik adalah munculnya permainan gitar dobro yang diperlakukan seperti bermain banjo, yang menemani dari awal sampai akhir lagu. Aransemen unik ini kembali dibuat dan di produseri oleh Gatot Alindo, yang juga memproduseri lagu “Selamanya Cinta”.
Proses daur ulang lagu ini dimulai ketika mereka mencoba mendaur ulang tiga lagu berbahasa Indonesia untuk kepentingan pitching iklan produk rumah tangga ke sebuah perusahaan periklanan. Demo yang dibuat dalam waktu tiga hari itu akhirnya dikirimkan juga ke Pops Musik, perusahaan rekaman tempat mereka bernaung, hingga dipilih satu lagu. Dengan tak bermaksud menolak tawaran iklan, akhirnya Pops Musik dan D’cinnamons lebih tertarik untuk merilis single “Galih dan Ratna” di awal tahun 2009 ini.
Link ; http://rollingstone.co.id/?m=rs&s=news&a=view&id=87
Lagu The Beatles Digratiskan
Dalam acara ini, para 'penyiar' mendiskusikan lagu-lagu The Beatles seperti Yesterday dan Let It Be dan sekaligus memutar lagu yang mereka bicarakan tadi. Lagu-lagu inilah yang kemudian dapat di-download secara gratis dan legal tentunya setelah mendaftar terlebih dahulu.
link ; http://www.kapanlagi.com/h/0000269745.html
Senin, 29 Desember 2008
Gitar Kurt Cobain Dijual US$100 Ribu
Karir Kurt Cobain memang tergolong pendek. Namun dalam rentang waktu kurang dari sepuluh tahun itu, musisi jenius yang satu ini sudah mampu mencatatkan namanya dalam sejarah musik dunia. Dan itu semua dilakukan hanya dengan tiga album saja. Popularitas Nirvana mulai menanjak ketika grup ini ngetop lewat tembangnya Smells Like Teen Spirit.
Gitar Fender Mustang yang sudah rusak ini dipastikan akan dilelang dalam acara yang digelar Experience Music Project di Seattle, Washington dengan harga awal US$100 ribu. Selama ini gitar rusak itu menjadi milik seorang musisi punk rock bernama Sluggo.
link ; http://www.kapanlagi.com/h/0000268450.html
Kamis, 18 Desember 2008
15 Artis Berkampanye Siaga Bencana Alam Lewat Musik
Para musisi bahu membahu memberitahu masyarakat agar siaga bencana kapan saja dan dimana saja. Oleh Wendi Putranto
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia [LIPI] kini tidak hanya peduli dengan penelitian ilmiah belaka, mereka juga peduli rock & roll! Bekerjasama dengan Electrified Records yang dimiliki oleh Naif mereka merilis album kompilasi bertitel Science In Music [Album Kompilasi Siaga Bencana].
Tentu saja album ini tidak untuk diperjualbelikan namun dibagikan gratis sebagai medium kampanye penyebar pesan-pesan kewaspadaan terhadap bencana alam seperti gempa bumi, Tsunami, gunung meletus hingga angin puting beliung.
CD kompilasi bertitel Science In Music [Album Kompilasi Siaga Bencana] yang memuat 15 lagu tersebut diisi oleh Naif, Navicula, Samsons, Netral, Franky Sahilatua, Mocca, The Upstairs, St. Loco, Efek Rumah Kaca, Lake Of Three, White Shoes & The Couples Company, 70’s Orgasm Club, Buset, MGM serta Frank N’ Friends. Franki Indrasmoro alias Pepeng, drummer Naif mengepalai proyek ini sebagai produser.
“Para musisi ini berusaha menerjemahkan bahasa ilmiah LIPI yang kerap kali sulit dimengerti oleh masyarakat awam ke dalam bahasa yang lebih sederhana yaitu musik,” demikian dikutip dari press release yang dibagikan pada Jumat [28/11] di Kedai, Jalan Benda, Jakarta Selatan.
Sebelumnya di bulan April silam pihak LIPI telah menggelar workshop tentang bencana alam khusus bagi para musisi yang ikut serta di album kompilasi ini. Proses “pembekalan” ini terbukti cukup berhasil karena setelahnya beberapa band kemudian langsung terinspirasi menciptakan lagu mengenai bencana alam.
Misalnya Navicula, band grunge Bali yang sejak lama telah melakukan advokasi terhadap isyu-isyu lingkungan hidup ini menyumbangkan single bertitel “Supermarket Bencana” yang dengan satir mengungkap potensi bencana dibalik keindahan alam negeri kita.
“Lahan hijau yang terhampar di seribu pulau yang terjajar / Indonesia negeri aman sentosa / Tapi jangan lengah kawan / dibalik semua keindahan ada sembunyi tak kelihatan / Buka mata dan telinga / bencana alam mengancam / kapan saja dia siap menerkam,” teriak Robi, sang vokalis di lagu tersebut. Efek Rumah Kaca menyumbangkan lagu pelan “Hujan Jangan Marah” yang diambil dari album terbaru mereka yang bakal beredar pertengahan bulan depan, Kamar Gelap. Sementara band new wave The Upstairs merekam ulang lagu ceria “Dansa Akhir Pekan” dan mengganti judul serta liriknya dengan pesan-pesan eksplisit yang harus dilakukan apabila terjadi bencana gempa bumi atau gelombang Tsunami.
“Di kala gempa melanda / keluar ke tempat yang terbuka / berlindung di bawah meja / merapat ke dinding bangunan / ku siap siaga / terhadap bencana,” nyanyi Jimi Multhazam, vokalis The Upstairs di lagu berjudul “Siap Siaga”.Tak semua band di album ini membawakan lagu ciptaan mereka sendiri, Lake Of Three, band baru yang merupakan proyek sampingan Glenn Fredly [vokal, gitar] bersama Barry Likumahuwa [bass] dan Nyonk Webster [drums] merekam ulang hit klasik “Kemarau” milik grup legendaris The Rollies dalam nuansa pop funk yang keren.
Album kompilasi siaga bencana ini rencananya oleh LIPI akan dibagikan kepada masyarakat yang berada di wilayah-wilayah rawan bencana di seluruh Indonesia berbarengan dengan program-program penyuluhan yang akan digelar. Peluncuran pertama album ini telah dilakukan di Yogyakarta pada tanggal 24-26 Oktober silam dalam acara Pameran Nasional Siaga Bencana.
“Awalnya kami merilis CD sebanyak 5000 keping untuk dibagi-bagikan namun selanjutnya kami rencananya akan bekerjasama dengan media massa untuk mendistribusikannya secara cuma-cuma,” ujar Irina Rafliana, mewakili pihak LIPI.
SCIENCE IN MUSIC
[Album Kompilasi Siaga Bencana]
Track List:
- Story of Aceh – MGM
- Supermarket Bencana – Navicula
- Hujan Jangan Marah – Efek Rumah Kaca
- Metropolis – Saint Loco
- Zamrud Khatulistiwa – White Shoes & The Couples Company
- Waduh, Indonesia Rawan Bencana – Buset
- Dimana Nurani – Franky Sahilatua
- Dengan Nafasmu – Samsons
- Promises – Mocca
- Alam Indonesia – Naif
- Indonesia Supermarket Bencana – The 70’s Orgasm Club
- Kemarau – Lake Of Three
- Unlimited – Netral
- Siap Siaga – The Upstairs
- Nusantara Tercinta – Frank N’ Friends
Bono Dapat Nobel
Walikota Paris, Bertrand Delanoe, mengadakan perayaan pembagian penghargaan itu pada hari Jumat (12/12), memberikan penghargaan bagi anggota band U2 itu untuk kampanye globalnya untuk membujuk negara kaya untuk memberikan bantuan pada negara yang butuh bantuan.
link ; http://www.kapanlagi.com/h/0000266358.html
Minggu, 07 Desember 2008
Indie
Side Stream Music
Banyaknya musisi indie pada saat ini jelas menjadi sebuah fenomena tersendiri. Para musisi indie tersebut nampaknya benar-benar nyaman dalam bermusik, mereka juga sama sekali tidak dikejar-kejar dalam pembuatan album mereka sendiri.
Komunitas indie pada saat ini jauh lebih teroganisir dan jelas dibandingkan pada pertengahan tahun 90an. Pada saat itu ruang lingkup indie benar-benar sangat sempit dan terpecah. Indie sempat terpecah menjadi Indies dan Underground. Komunitas Indies sendiri biasanya terinspirasi dari beberapa musisi Inggris, sehingga timbulah istilah Brith Pop atau British Pop. Musik Indies memiliki beat yang santai dan sedikit banyak menceritakan tentang teriakan hati dari sang musisi tersebut.
Morrissey, Oasis, Pulp, Depache Mode, New Order manjadi salah satu inspirasi bagi para musisi Indies pada saat ini. Indies juga mulai menjadi sebuah lifestyle yang cukup banyak diminati. Para komunitas musik yang satu ini cenderung terlihat seperti para junkie, make up yang membuat muka terlihat pucat dan potongan rambut yang sedikit aneh menjadi sebuah icon dari aliran musik yang satu ini.
Terlepas dari Indies, kita juga sempat mendengar istilah Undergound. Nama yang sedikit menyeramkan benar-benar mewakili dari musik yang satu ini. Para musis Underground memang terlihat sedikit berantakan dibandingkan dengan para musisi yang lainnya. Musik yang keras dan berkesan gelap menjadi musik favorit bagi komunitas yang satu ini.
Para musisi Underground sendiri biasanya mengusung musik jenis Punk dan Hardcore. Kekerasan nampaknya menjadi sesuatu hal yang wajar bagi para pencinta musik ini. Aksesoris yang mengesankan kekerasan seperti rantai dan spike juga dapat Anda temukan dengan mudah pada komunitas yang satu ini. Setelah mengalami beberapa proses dan seiring dengan berjalannya waktu akhrinya kedua jenis musik ini menyatu dan mengibarkan bendera indie.
Retrievel
Awal tahun 2000 merupakan sebuah moment tersendiri dari para musisi indie tersebut. Musik indie mulai dapat diterima di beberapa kalangan masyarakat dan tetap menjadi sebuah lifestyle. Kualitas dari musiknya sendiri pun jauh lebih meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, kualitas yang semakin baik tersebut akhirnya menciptakan sebuah kesempatan-kesempatan untuk memperlihatkan hasil karya mereka. Jika sebelumnya musisi indie hanya dapat bermain di tempat-tempat tertentu, kini mereka dapat dengan mudah ditemukan sedang bermain di beberapa tempat yang lebih bagus.
Untuk pendistribusian album mereka sendiri pun kini jauh lebih mudah. Dahulu nampaknya sangat sulit jika mereka ingin menjual karya-karya mereka, kini beberapa distro pun sanggup memasarkan album-album mereka, selain itu, banyaknya recording company yang memang khsusus untuk musisi indie pun semakin banyak bermunculan. Komunitas para pencinta musik ini pun semakin berkembang dan semakin luas.
Indie ‹---› Major
link ; http://freemagz.com/time-out/independent-music