Band ini berasal dari Glasgow, skotlandia. Mereka terdiri dari 5 orang personel yaitu,
Mau tau lebih jauh tentang mereka, buka ajah website mereka www.camera-obscura.net atau di my space mereka di www.myspace.com/cameraobscuraband.




Track List:Musisi Pendukung: Panjita (biola), Belanegara Abimanyu Putra (perkusi), Indra Artie Dauna (terompet), Eugene Bounty (saksofon Alto), Leonardus Joko Mulyanto (saksofon Tenor), Johan Damaris (trombon), Harry Winanto (flute)
Produser Eksekutif: Aksara Records & White Shoes & The Couples Company
Produser Rekaman: Hazel Gazel Dan White Shoes & The Couples Company
Artwork Oleh Tandun
sumber: http://yesnowave.com/Posted on 26 July 2009 by Agus Setiawan Basuni
One-Note Entertainment yang didukung oleh WartaJazz.com akan menggelar Yuk ke 1st Jazz@Fort of Rotterdam di Makassar pada tanggal 1 dan 2 Agustus 2009 mendatang, demikian yang disampaikan Hendra Sinadia, penggagas acara ini.
Sejumlah bintang dari Jakarta akan hadir memeriahkan acara dua hari yang digelar di ruang terbuka ini. Mereka yang hadir antara lain NERA feat. Gilang Ramadhan, gitaris Tohpati, gitaris Oele Pattiselanno, Jefry Tahalele, Cendy Luntungan, Iga Mawarni, Zarro, Riza Arshad, Indra Aziz Beat Bop Project, Mian Tiara, Paul T-Five dan Zerlina Devi.
Sementara tuan rumah Makassar akan menyajikan Phinisi – A Tribute to Benny Maelowa, Mangara Jazz Project, Andre Tidie Trio, La’Biri band, Obsession feat. Yogi, – Tribute to Grover Washington Jr, Rizky De Keyzer, Easy, Bossannova band, Jad N Sugy & lain-lain.
Panitia menetapkan tiket seharga Rp 100.000,(ini untuk dua hari), kalau anda cuman menonton satu hari saja, tiketnya seharga Rp.75.000,- untuk anda yang tertarik menonton. Silakan menghubungi 0411-325234 atau 081355860880
Kehadiran Jazz@Fort of Rotterdam yang dibuat dalam format festival merupakan sebuah kebanggaan bagi Makassar, karena ini adalah acara pertama yang digagas dikawasan timur Indonesia. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung sebagai agenda tahunan.
“Dukungan dari pemerintah daerah sangat positif”, demikian ungkap Hendra Sinadia. “Kami berkeinginan agar kegiatan ini dapat berhubungan dengan sister cities seperti Rotterdam dan Cape Town di Afrika Selatan”, tambahnya saat berkunjung ke redaksi WartaJazz.com beberapa waktu lalu.
Kegiatan festival ini juga menambah semarak kegiatan jazz di Indonesia yang tak hanya diselenggarakan dipulau Jawa namun mulai pula dibuat di kawasan timur Indonesia. Hingga saat ini memang tercatat baru kota-kota di Sumatra, Jawa dan Bali yang menjadi tempat penyelenggaraan pertunjukan jazz berskala festival.
Dalam kegiatan ini panitia juga menjual sejumlah official merchandise dengan desain antara lain sebagai berikut.
http://www.wartajazz.com/2009/07/26/yuk-ke-1st-jazz-at-fort-of-rotterdam-makassar/
U2 melanjutkan kesuksesan mereka dengan merebut tempat nomer satu di Eropa setelah berjaya di daftar album terbaik untuk Amerika dan UK.
Prodigy terpaksa harus menerima kenyataan bahwa album mereka, INVADERS MUST DIE, jatuh ke posisi nomor dua. Sementara itu, Lady Gaga masih belum beranjak dari posisi sebelumnya, yakni di urutan ketiga dengan albumnya THE FAME.
Namun untuk urutan single terbaik, Poker Face milik Lady Gaga masih merajai tangga lagu Eropa selama tiga minggu berturut-turut.
"Kami tetap profesional sebagai pemain musik dan kami tidak mau mengampanyekan Parpol atau mengarahkan masyarakat untuk memilih Parpol tertentu," kata personel Gigi, Armand Maulana sebelum mengisi acara kampanye Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Stadion Mandala Krida Yogyakarta, Selasa (17/3).
Menurut dia, Parpol manapun yang meminta Gigi untuk tampil, jika memungkinkan akan dipenuhi tetapi dengan catatan tidak mengampanyekan Parpol bersangkutan.
"Seperti hari ini kami bermain musik untuk menghibur massa pendukung PKS, tetapi kami tidak sekalipun menyebut nama PKS di atas panggung, apalagi mengarahkan mereka untuk memilih PKS," katanya.
Ia mengatakan, dalam pentas tersebut personel Gigi juga tidak menggunakan atribut PKS dan simbol-simbol lain dari parpol.
"Lagu yang kami mainkan juga yang biasa kami mainkan dan tidak ada lagu yang menyebut nama parpol, karena kehadiran kami untuk menghibur dan bukan untuk kampanye," katanya.
Dalam kesempatan itu Gigi membawakan beberapa buah lagu seperti Pintu Surga, 11 Januari, Nakal dan beberapa lagu Gigi yang pernah menjadi hit.
Lebih lanjut ia mengatakan, sebelum kontrak untuk mengisi acara kampanye PKS tersebut pihaknya memang telah membuat kesepakatan tidak bersedia untuk mengampanyekan parpol dan ini juga disetujui pihak penyelenggara.
"Kami sudah sepakat untuk tidak kampanye dan hanya bermain musik sebagai grup band profesional, sebab ini memang pekerjaan kami," katanya.
Lagi-lagi lagu karya musisi Indonesia dibajak musisi dan penyanyi India. Kali ini lagu “Bongkar” Iwan Fals yang berkolaborasi dengan kelompok Swami.
Lagu itu diaransemen ulang dan dinyanyikan oleh musisi India dengan bahasa mereka. Dan judul lagu itu berubah menjadi ‘Oya Oya’ yang merupakan soundtrack film India “Horn Ok Pleassss”.
Seperti ditulis www.iwanfalsmania.blogspot.com, penggunaan aransemen lagu “Bongkar” oleh musisi India tanpa persetujuan dari pengarang lagu ini yaitu Iwan Fals dan kelompok Swami. Juga tidak ada izin dari label yang memayungi album Iwan dan Swami, yaitu Airo Records.
Ini berarti, lagu “Bongkar” telah dijiplak musisi India. Intro dan reffrain lagu versi India ini benar-benar mirip dengan versi Iwan Fals. Perbedaan hanya terdapat pada bagian kecil dan tentu saja bahasa yang digunakan.
“Kita jadi kembali ingat tentang kasus lagu ‘Tak Bisakah’ milik band Peterpan yang menjelma menjadi ‘Kya Mujhe Pyar Hai’. Lagu Peterpan itu dijiplak habis oleh musisi India dan menjadi lagu yang populer serta menduduki puncak tangga lagu cukup lama di India.
Namun menurut kabar berita, pihak Musica Studio (label album Peterpan) telah menyelesaikan kasus penjiplakan ini dengan kekeluargaan,” tulis www.iwanfalsmania.blogspot.com.
Menariknya lagi, orang yang menyanyikan “Oya Oya” dan “Kya Mujhe Pyar Hai” adalah penyanyi yang sama. Dia adalah penyanyi India bernama Kay Kay.
Dikhawatirkan, musisi India sedang melakukan ‘balas dendam’ sebab lagu-lagu mereka juga sering menjadi objek plagiarisme oleh musisi Indonesia terutama lagu-lagu dangdut. (IWN/Ezz)
Link ; http://tembang.com/info_detail.asp?id=3499&kategori=news
Axl, yang tinggal satu-satunya personil di band ini menolak ajakan reuni dari Duff McKagan, malahan dia mengecam Slash.
Dalam wawancara dengan Spinner.com, Axl, mengatakan, "Kukira Duff dapat main gitar di mana saja, tapi tidak ada kemungkinan bagiku melakukan apapun dengan Slash....bagiku, secara pribadi aku menganggapnya seperti kanker yang harus dibuang, dihindari."
Bukan hanya soal pribadi, Axl juga mengecam ketrampilan Slash dalam bermusik. Menyebut kalau dia lebih senang mendengarkan musik orang lain daripada temannya ini.
Personil awal Guns N' Roses di masa jayanya digawangi Rose (vokalis), Slash (gitar), Izzy Stradlin (gitar), Duff McKagan (Bass) dan Steven Adler (drum). Perseteruan antara Rose dan Slash dimulai sejak mereka melakukan tur di tahun 1991. Kabarnya Rose, yang merasa sebagai penggagas terbentuknya band ini mulai menuntut hak tunggal nama Guns N' Roses dari Slash dan McKagan. Sejak itu ketegangan semakin memuncak. Dan satu-persatu personel grup ini mengundurkan diri.
Fred Durst (vokal), Wes Borland (gitar), Sam Rivers (bass), John Otto (drum) dan DJ Lethal berencana meluncurkan album baru yang akan segera disusul dengan serangkaian tur mulai musim semi nanti. Borland sendiri sempat meninggalkan Limp Bizkit di tahun 2001 namun sempat bergabung lagi di tahun 2004 meski untuk waktu yang cukup singkat.

Siaran persnya, menulis begini: “Galih dan Ratna” kali ini dihadirkan dalam tempo trainbeat, dengan mood yang ringan seperti bercerita ke pendengar tentang indahnya cinta antara Galih dan Ratna. Elemen khusus yang membuat unik adalah munculnya permainan gitar dobro yang diperlakukan seperti bermain banjo, yang menemani dari awal sampai akhir lagu. Aransemen unik ini kembali dibuat dan di produseri oleh Gatot Alindo, yang juga memproduseri lagu “Selamanya Cinta”.
Proses daur ulang lagu ini dimulai ketika mereka mencoba mendaur ulang tiga lagu berbahasa Indonesia untuk kepentingan pitching iklan produk rumah tangga ke sebuah perusahaan periklanan. Demo yang dibuat dalam waktu tiga hari itu akhirnya dikirimkan juga ke Pops Musik, perusahaan rekaman tempat mereka bernaung, hingga dipilih satu lagu. Dengan tak bermaksud menolak tawaran iklan, akhirnya Pops Musik dan D’cinnamons lebih tertarik untuk merilis single “Galih dan Ratna” di awal tahun 2009 ini.
Link ; http://rollingstone.co.id/?m=rs&s=news&a=view&id=87
Dalam acara ini, para 'penyiar' mendiskusikan lagu-lagu The Beatles seperti Yesterday dan Let It Be dan sekaligus memutar lagu yang mereka bicarakan tadi. Lagu-lagu inilah yang kemudian dapat di-download secara gratis dan legal tentunya setelah mendaftar terlebih dahulu.
Karir Kurt Cobain memang tergolong pendek. Namun dalam rentang waktu kurang dari sepuluh tahun itu, musisi jenius yang satu ini sudah mampu mencatatkan namanya dalam sejarah musik dunia. Dan itu semua dilakukan hanya dengan tiga album saja. Popularitas Nirvana mulai menanjak ketika grup ini ngetop lewat tembangnya Smells Like Teen Spirit.
Gitar Fender Mustang yang sudah rusak ini dipastikan akan dilelang dalam acara yang digelar Experience Music Project di Seattle, Washington dengan harga awal US$100 ribu. Selama ini gitar rusak itu menjadi milik seorang musisi punk rock bernama Sluggo.
Para musisi bahu membahu memberitahu masyarakat agar siaga bencana kapan saja dan dimana saja. Oleh Wendi Putranto
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia [LIPI] kini tidak hanya peduli dengan penelitian ilmiah belaka, mereka juga peduli rock & roll! Bekerjasama dengan Electrified Records yang dimiliki oleh Naif mereka merilis album kompilasi bertitel Science In Music [Album Kompilasi Siaga Bencana].
Tentu saja album ini tidak untuk diperjualbelikan namun dibagikan gratis sebagai medium kampanye penyebar pesan-pesan kewaspadaan terhadap bencana alam seperti gempa bumi, Tsunami, gunung meletus hingga angin puting beliung.
CD kompilasi bertitel Science In Music [Album Kompilasi Siaga Bencana] yang memuat 15 lagu tersebut diisi oleh Naif, Navicula, Samsons, Netral, Franky Sahilatua, Mocca, The Upstairs, St. Loco, Efek Rumah Kaca, Lake Of Three, White Shoes & The Couples Company, 70’s Orgasm Club, Buset, MGM serta Frank N’ Friends. Franki Indrasmoro alias Pepeng, drummer Naif mengepalai proyek ini sebagai produser.
“Para musisi ini berusaha menerjemahkan bahasa ilmiah LIPI yang kerap kali sulit dimengerti oleh masyarakat awam ke dalam bahasa yang lebih sederhana yaitu musik,” demikian dikutip dari press release yang dibagikan pada Jumat [28/11] di Kedai, Jalan Benda, Jakarta Selatan.
Sebelumnya di bulan April silam pihak LIPI telah menggelar workshop tentang bencana alam khusus bagi para musisi yang ikut serta di album kompilasi ini. Proses “pembekalan” ini terbukti cukup berhasil karena setelahnya beberapa band kemudian langsung terinspirasi menciptakan lagu mengenai bencana alam.
Misalnya Navicula, band grunge Bali yang sejak lama telah melakukan advokasi terhadap isyu-isyu lingkungan hidup ini menyumbangkan single bertitel “Supermarket Bencana” yang dengan satir mengungkap potensi bencana dibalik keindahan alam negeri kita.
“Lahan hijau yang terhampar di seribu pulau yang terjajar / Indonesia negeri aman sentosa / Tapi jangan lengah kawan / dibalik semua keindahan ada sembunyi tak kelihatan / Buka mata dan telinga / bencana alam mengancam / kapan saja dia siap menerkam,” teriak Robi, sang vokalis di lagu tersebut. Efek Rumah Kaca menyumbangkan lagu pelan “Hujan Jangan Marah” yang diambil dari album terbaru mereka yang bakal beredar pertengahan bulan depan, Kamar Gelap. Sementara band new wave The Upstairs merekam ulang lagu ceria “Dansa Akhir Pekan” dan mengganti judul serta liriknya dengan pesan-pesan eksplisit yang harus dilakukan apabila terjadi bencana gempa bumi atau gelombang Tsunami.
“Di kala gempa melanda / keluar ke tempat yang terbuka / berlindung di bawah meja / merapat ke dinding bangunan / ku siap siaga / terhadap bencana,” nyanyi Jimi Multhazam, vokalis The Upstairs di lagu berjudul “Siap Siaga”.Tak semua band di album ini membawakan lagu ciptaan mereka sendiri, Lake Of Three, band baru yang merupakan proyek sampingan Glenn Fredly [vokal, gitar] bersama Barry Likumahuwa [bass] dan Nyonk Webster [drums] merekam ulang hit klasik “Kemarau” milik grup legendaris The Rollies dalam nuansa pop funk yang keren.
Album kompilasi siaga bencana ini rencananya oleh LIPI akan dibagikan kepada masyarakat yang berada di wilayah-wilayah rawan bencana di seluruh Indonesia berbarengan dengan program-program penyuluhan yang akan digelar. Peluncuran pertama album ini telah dilakukan di Yogyakarta pada tanggal 24-26 Oktober silam dalam acara Pameran Nasional Siaga Bencana.
“Awalnya kami merilis CD sebanyak 5000 keping untuk dibagi-bagikan namun selanjutnya kami rencananya akan bekerjasama dengan media massa untuk mendistribusikannya secara cuma-cuma,” ujar Irina Rafliana, mewakili pihak LIPI.
SCIENCE IN MUSIC
[Album Kompilasi Siaga Bencana]
Track List:
Walikota Paris, Bertrand Delanoe, mengadakan perayaan pembagian penghargaan itu pada hari Jumat (12/12), memberikan penghargaan bagi anggota band U2 itu untuk kampanye globalnya untuk membujuk negara kaya untuk memberikan bantuan pada negara yang butuh bantuan.

Secara umum, empat belas lagu yang dikemas dalam album ini terasa jauh berbeda dengan warna yang selama ini ditawarkan GNR. Kalaupun ada kesamaan sebenarnya album ini lebih mirip lagu November Rain atau Estraged karena Axl banyak memasukkan unsur orkestra dan bunyi denting piano seperti pada kedua lagu tersebut.
Melihat hasil akhir dari album berusia lebih dari sepuluh tahun ini, wajar saja jika Slash dan para personel lain memilih mengundurkan diri dari GNR. Konsep album ini sudah melenceng jauh dari titik awal tempat GNR didirikan. Malah bisa disebut album ini sebenarnya adalah solo album Axl Rose meski masih mengusung nama GNR.
Bila Anda melihatnya dari sisi kreativitas, maka bisa dibilang album ini adalah hasil eksperimen dari Axl yang jelas penuh dengan warna baru. Axl tak segan-segan memasukkan bunyi-bunyian synthesizer dan mellotron untuk mencapai hasil yang ia mau. Hasilnya memang membuat lagu-lagu dalam album ini terasa fresh, modern, megah sekaligus juga kehilangan taring.
Soal kehilangan taring, bisa disebut hampir semua lagu memang kehilangan power yang dulu identik dengan musik GNR. Di samping disebabkan karena bunyi-bunyian 'mesin' yang rata-rata dianggap 'haram' oleh para musisi rock karena menghilangkan 'roh' dari lagu itu sendiri, nada-nada hip-hop yang tercium keras di beberapa lagu juga turut menyumbangkan andil dalam menurunkan 'tegangan' lagu.
Untungnya, kesan lembek ini sedikit terangkat oleh raungan serak falsetto Axl ditambah dengan suara riff-riff gitar dengan distorsi tebal. Namun jangan berharap dapat mendengar solo gitar yang melodius kental berbau blues ala Slash karena ia tak lagi menyumbangkan suara gitarnya dalam album ini. Akhirnya yang tersisa hanyalah suara gitar dengan efek distorsi tebal dan nada-nada yang sebenarnya lebih terasa sebagai pamer teknik dan kecepatan saja.
Ada beberapa lagu dalam album ini yang sebenarnya cukup menarik, atau setidaknya punya paduan nada yang catchy dan dijamin bakalan jadi track favorit. Sebut saja lagu Chinese Democracy yang dibuka dengan riff gitar yang sepintas terdengar seperti riff lagu Rock You Like a Hurricane punya Scorpions atau track berjudul Better yang awalnya terdengar lebih mirip lagu R&B ketimbang lagu rock.
Pada lagu Madagascar yang sekilas terdengar seperti lagu Kashmir punya Led Zeppelin, Axl mencoba memasukkan sampel dari pidato Dr. Martin Luther King di tengah-tengah lagu sementara IRS dan Riad n' the Bedouins dikemas dalam aransemen yang sederhana sehingga lebih kental berbau hard rock.
Katon Bagaskara, salah satu personil KLA Project, mengungkapkan, ia mendapatkan rapper asal Inggris itu melalui informasi yang disosialisasikannya melalui Facebook. Ia mengumumkan ke publik tentang keinginannya untuk menggandeng rapper yang potensial dan cocok membawakan lagu di salah satu album yang digarapnya. Alhasil, ia mendapatkan Christopher Aquilar sebagai rapper yang paling cocok untuk lagunya.
"Ketemunya di komunitas Facebook. Saya pakai bahasa Inggris mau mencari rapper. Di inbox banyak yang masuk. Terus aku coba yang Indonesia dulu. Asik, cuman ngebitnya kurang. Terus Chris masuk. Dia mau coba. Dia datang ke Indonesia. Kebetulan dia ada bisnis. Dia datang sama manajernya ke rumah. Begitu saya minta ngerep dan itu bagus sekali," papar katon.
Lagu Someday itu sendiri liriknya ditulis dalam bahasa campuran antara Inggris dan Indonesia. Katon berharap lagu itu bisa diterima di luar negeri.